mudik


Ada kerinduan macam begini…

Tiga kali puasa
tiga hari lebaran
Abang tak pulang-pulang
Sepucuk Surat tak datang

Sadar, sadarlah Abang
ingat anak-istrimu
Cepat, cepatlah pulang
semua rindukan dirimu (Rimba Mustika, Bang Thoyib)

Ada lagi kerinduan macam begini

Almost heaven, West Virginia
Blue Ridge Mountains, Shenandoah River
Life is old there, older than the trees
Younger than the mountains, blowing like a breeze

Chorus:
Country roads, take me home
To the place I belong
West Virginia, Mountain Mama
Take me home, country roads (John Denver, Country Road)

Mudik nampaknya lebih mengacu pada liriknya John Denver, lirik Rimba Mustika membawa-bawa lebaran dan puasa hanya sebagai indikator waktu, seberapa lama Bang Thoyib meninggalkan keluarga…menariknya indikator tersebut adalah  puasa dan lebaran, bukan dengan ukuran older than the trees atau apalah seperti anakmu mulai bertanya ada apa di balik rok mama…(anak tiga tahun sudah mulai bertanya hal seperti itu—just FYI)  toh hal itu suatu yang lazim, wajar—namun sering disasarkan jawabannya.

Kembali mudik, suatu kisah yang bisa dilihat setiap tahun, di setiap koran, majalah, di setiap kesempatan ahli ekonomi-inflasi, kriminologi, sastra sampai hubungan luar negeri. Dimana ketika Indonesia ingin menunjuk giginya (yang mulai kuning) ke arah Malaysia, para pekerja migran international (baca: TKI dan TKW—khusus untuk menunjuk profesi pembantu yang disini lewat Inem Pelayan seksi—nyata-nyata dilecehkan hiper-realitasnya dan oleh petugas imigrasi, embarkasi, di bandara SoeHat dilecehkan realitasnya) ada yang takut tidak bisa kembali meraup rejeki di negeri jiran Malaysia, yang telah memberikan nafkahdan membangun desa mereka dengan cara mereka sendiri.

Mudik, bukan hanya adu kemewahan, juga adu kelihaian untuk mengajak sanak ‘percaya’ bahwa kekayaan dapat diraup dengan ‘hujan emas di negeri orang, bahkan bila perlu hujan batupun kurindu’ asal emak bisa punya modal garap sawah, asal rumah bisa ditembok bata, asal anak bisa lulus sma’, semuanya bersimpul di satu titik: desa.

Kami di Griya Soka juga susut penduduknya. Sebenarnya bagi sebagian kami yang bekerja di Jakarta, identitas perumahan kami adalah counter-urbanization. Kami yang teramat rindu dengan udara bersih, lari kalang-kabut ke sini  (betapa tidak—jam 5 pagi  keluar kerja, dengan sepeda motor ke stasiun, dari stasiun naik kereta berdesakkan dengan jambu, kursi bambu, dan sisa igauan). Jam 8.30 malam sebagian dari kami kembali ke rumah. Udara bersih mahal harganya.

Kembali ke mudik, kami mulai mendata siapa yang mudik (dan yang tidak) untuk ronda. Keamanan mahal harganya. Disini ada sekitar 300 KK, dan yang mudik rumahnya harus dijaga. Tidak seperti kura-kura, rumah di sini (juga di sana—somewhere in happyland) merupakan paduan dari peluh, utang, otot, imaji, keluh, masa depan!. Jika tercuri, wadaw, aw,aw, aw. Apa jadinya. Mudik, meninggalkan satu persoalan dan menjumpai satu — lainnya (atau beberapa persoalan—seperti utang untuk melakukannya). Hematnya baik yang di Jakarta, KL, atau Griya Soka mudik tetap memiliki akurasi yang sifatnya subjektif, pelakunya mungkin mirip-mirip kebutuhannya, bahkan tiap tahun niat untuk mudik bisa berbeda pada orang yang sama, namun jika ditanya mungkin lebih puitik ketimbang John Denver...life blowing like a breeze.

Selamat mudik bagi yang puasa dan tidak, berlebaran dan tidak. Inilah momentum, suatu peristiwa yang membuat masuk angin (para ahli—karena yang tidak ahli tidak pernah minum obat masuk angin)  namun memberikan kesempatan bagi semua, juga harapan bahkan terhadap keluarga Bang Thoyib (cepat pulang Bang!).

2 thoughts on “mudik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s